Senin, 10 Desember 2007

membongkar Kedok Kristenisasi di Balik Agenda Dialog Lintas Agama


MEMBONGKAR KEDOK KRISTENISASI DI BALIK AGENDA DIALOG LINTAS AGAMA
Oleh: M. Agus Budianto
Judul Buku: Menggugat Arogansi Kekeristenan
Judul Asli: Jesus And The Other Names: Christian Mission And Global Resposnsibility.
Penulis: Paul F. Knitter
Penebit: Kanisius
Cetakan: I, 2005
Tebal: 329 Halaman

SECARA esensial wacana Pluralisme Agama-Agama muncul sebagai Counter atas merebaknya berbagai isu konflik di berbagai daerah yang meng-atas-namakan Agama. Konflik Agama ini di tengarai telah masuk pada berbagai lini. Dinyatakan demikian karena tidak hanya pada persoalan Agama namun juga di banyak kasus konflik ini juga di pengaruhi dari faktor budaya,pendidikan, ekonomi, ras dll.
Pluralisme sendiri mencoba menawarkan suatu upaya pemahaman Inklusifisme yang berujung pada upaya pembenaran dan kesadaran toleransi terhadap keyakinan iman yang lain. Namun pada satu sisi ia juga mengandung akan pemahaman Eklusifisme dalam memandang suatu agama yang lain. Jelasnya bilamana seseorang terjebak di antara keduanya maka di satu sisi ia akan menjadi kelompok yang berhaluan "Singkretisme Agama", dan di satu sisi ia akan menjadi kelompok "Ekstrimis-Fundamentalis". Itu sebabnya konsep Pluralisme Agama-Agaama tersebut banyak menuai kritik dan di tolak oleh sebagian golongan. Banyak di antara mereka lebih sepakat dengan istilah Pluralitas Agama-Agama, karena ia lebih mengandug makna yang yang halus dan berkeadilan.
Terbukti, konsep Pluralisme gagal sebagai sebuah upaya penyelesaian konflik keagamaan, muncul wacana baru yang sampai saat ini ngetren di gemakan, yaitu wacana Multikulturalisme. Multikulturalisme disini di ambil dari kata "multi dan kultur" yang penulis sederhanakan bermakna "Keragaman Budaya". Penulis mengartikan demikian karena keberadaan akan "Keragaman Budaya" sendiri juga tak lepas dari faktor Agama, Budaya, Ekonomi, Pendidikan maupun Ras yang melingkupinya.
Multikulturalisme Agama-Agama menawarkan konsep yang lebih adil. Karena ia mempunyai pemahaman akan penilaian yang sederajat dan merata terhadap perbedaan yang ada tanpa embel-embel ada yang benar dan yang lebih benar.. sebagaimana pluralitas ia lebih diterima dari pada Pluralisme yang bilamana kita coba perdalam, samar ia masih mengandung adanya penilaian yang perioritas dan yang tidak prioritas, benar dan yang paling benar, dalam arti ada keakuan di dadalamnya.
Meski dia tergolong baru dan terlihat hampir tidak ada cacat akan tawaran konsep yang di ususngnya, Multikulteralisme tetaplah belum fainal sebagai sebuah konsep yang humanis dan permanen. Karena Multikulturalisme dalam tahapan-tahapan selanjutnya ia lebih berorientasi pada "Live In" (Usaba Perbaikan Iman Kedalam) yang justru puncaknya nanti ia akan lebih mengarah kepada keesklusifan pada pribadi masing-masing golongan terhadap golongan yang lain, begitupun sebaliknya. Tegasnya kedua konsep tersebut baik pluralisme maupun muktikulturalisme belumlah satu hal yang bisa dikatakan sebagai sebuah Problem Solving yang valid dan permanen.
Dalam upaya menengahi kedua wacana diatas Knittter dalam bukunya mencoba mengusung konsepnya tentang perlunya adanya sebuah pertemuan yang intensif dan koheren untuk mempertemukan perbedaan-perbedaan yang ada. Knitter menamakannya "Dialog Agama-Agama Yang Korelasional Dan Bertanggung Jawab Secara Global". Sebuah model dialog yang mendorong agar setiap orang beragama berusaha untuk mengenal dan berbicara satu sama lain atas dasar komitmen terhadap kesejahteraan manusiawi serta ekologi yang sama. Pemaknaan Global di sini mencakup, baik gagasan pembebasan sebagaimana dimaksudkan oleh teolog pembebasan tradisional dalam mengusahakan keadilan sosial bagi manusia maupun gagasan yang lebih luas.
Meski demikian Dialog yang bertanggung jawab secara global merupakan bentuk kesadaran akan perjumpaan antar iman tidak akan lengkap dan mungkin akan berbahaya bilamana tidak mencakup keprihatinan serta usaha untuk mengatasi penderitaan manusia dan ekologi yang merata di dunia.
Dialog korelasional mengandaikan bahwa agama-agama sungguh bebrbeda; tanpa perbedaan yang sesungguhnya, dialog menjadi tindakan berbicara di hadapan cermin. Peserta dialog akan memberi kesaksian mengenai apa yang membuat mereka berbeda, mencoba menunjukkan dan meyakinkan peserta yang lain mengenai nilai-nilai yang mereka dapatkan dalam tradisi mereka. Akan tetapi, pada saat yang sama, mereka akan secara sungguh berani terbuka pada kesaksian akan kebenaran yang di berikan peserta yang lain kepada mereka. Yang pad nantinya akan membentuk suatu korelasi dari proses dialog yang timbal-balik: berbicara dan mendengarkan, mengajar dan belajar, memberi dan diberi.dll.
Suatu dialog korelasional semacam itu dapat terwujud bilamana pertemuan dialogis tersebut diadakan dalam masyarakat yang Egaliterian dan bukan pada masyarakat yang Hirarkis. Dialog korelasional juga tidak dapat dimulai dengan suatu agama yang memandang diri sebagai pemegang kartu as atau merasa diri lebih baik dalam segala hal dari pada yang lain atau mempunyai norma akhir yang akan menyingkirkan atau menampung norma-norma yang lain. Dialog antar iman akan gagal apabila salah satu agama secara apriori memandang dirinya lebih unggul dalam segala hal dari pada agama yang lain, sehingga agama trsebut tidak mau atau mampu belajar dari agama lain.
Meski pada awalnya knitter adalah seorang anggota komunitas internasional Societas Verbi Divini (SVD) sebagai misonaris tetap pada akhirnya ia menyadari bahwa kebenaran adalah milik smua. Ia mendukung upaya dari konsili vatikan II yang di fasilitasi oleh Paus Yohanes XXIII akan pengakuan kebnaran Agama-Agama di luar Kristen. Yang tertuang dalam dokumen "Sub Secreto" (konfidensial), yang berjudul "Pernyataan Tentang Hubungan Gereja Dan Agama-Agama Non Kristen" terdapat pernyataan posiif. Mengenai kebenaran dan nilai-nilai Agama Hindu, Budha, dan Islam, yang sebelumnya tidak pernah mengisi dokumen Gereja.
Menurutnya ia tidak hanya membuka jendela yang lama terkunci dalam Gereja Roma. Tetapi sekaligus juga mengetuk melalui tembok-tembok dan secara tidak langsung mengundang pembaruan atas model dan kebiasaan yang lama. Oleh karenanya pemahaman mengenai Yesus sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran sudah selayaknya untuk di revisi dan dikaji kembali. Baik di buku pertamanya One Erth Many Religion (Satu Bumi Tiga Agama) dan buku ini sama-sama Knitter menyayangkan akan di balik upaya dialog antar Iman sabagai salah satu hasil dari Konsili Vatikan II tersebut mempunyai maksud sebagai perpanjang tanganan dari upaya misi Kristenisasi, namun perbedaannya adalah pada praksisnya di lapangan, Kalau dulu melakukan upaya pengkristenan dengan secara terang-terangan, kini ia mempengaruhinya secara tertutup. Yaitu dengan pola mempengaruhi secara intlektual maupun moral, karena bagi knitter misi tetaplah misi.
Kritik dan analisis yang di tawarkan dalam buku ini sangat menggelitik dan menggigit. Karenanya Buku ini layak di baca oleh semua kalangan, mengingat Kritik dan ide besarnya benar-benar relevan dan populis.

Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Religiosa, Vol. I. No. 2. Feb. 2006. Hlm: 62-63

TIM PENGAWAS BBM


Tim Pengawas BBM
Oleh: M. Agus Budianto

Wacana pennyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pertamina akhir-akhir ini santer di beritakan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronika bahkan menempatkan isu tersebut dihalaman depan dengan mengalahkan beberapa isu yang sempat menggegerkan masyarakat dan opini publik sebelumya. Seperti permasalahan MoU untuk Aceh yang penuh kontroversi, anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS, dan baru-baru ini tragedi yang menimpa maskapai Penerbangan Indonesia, Mandala Air Lines yang memakan ratusan korban jiwa, meski sampai saat ini belum diketahui sebab musababnya.
Isu penyelundupan (baca: pencurian) BBM tersebut bermula dari terbongkarnya kasus penyelundupan pada salah satu pangkalan minyak bumi, tepatnya di lawe-lawe, kalimantan Timur. Menjadi santer karena ditangani langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bekerja sama dengan instansi terkait dan pihak kepolisian. Tidak tanggung-tanggung dari hasil terungkapnya penyelundupan BBM yang melibatkan 18 jajaran pejabat Pertamina yang tergabung dalam sindikat jaringan penyelundupan BBM, akibatnya Negara telah mengalami kerugian hingga Rp. 8,8 trilyun rupiah..
Tragisnya pencurian tersebut terungkap ketika sejak beberapa bulan terahkir negri ini menglami krisis pasokan energi yang tergolong parah. Begitupun juga anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga mencapai angka serius yaitu 11 ribu lebih akibat naiknya harga minyak mentah dipasaran internasional yang mencapai 70 dolar AS per barelnya. Bahkan ditengah kepanikan tersebut, SBY belum lama ini telah mengeluarkan Intruksi Presiden (Impres) No. 10/2005 tentang penghematan energi, Impres itu sekaligus sebagai sebuah upaya penanganan dan solusi terbaik dalam menghadapi kelangkaan BBM di Tanah Air.
Dari wacana di atas dapat di garis bawahi bahwasanya kasus ini termasuk pada kategori berat sekaligus juga merupakan bentuk kekerasan terhadap takyat miskin. Mengingat penyelundupan ini tidak hanya merugikan Negara, namun hal ini juga berdampak langsung pada rakyat miskin yang semestinya mereka bisa menikmati BBM yang bersubsidi tersebut.
Faktor Penyelundupan
Satu hal yang harus kita garis bawahi, bahwasanya setiap sesuatu yang terjadi tidaklah harus dimaknai sebagai sebuah kejadian semata, namun juga harus di cari faktor dan sebab musababnya. Karena dibalik terjadinya aksi penyelundupan itu juga dimungkinkan adanya kekuatan yang mendorongnya (Power back up). Jadi aksi penyelundupan yang terjadi di Pertamina bukanlah semata-mata tanpa sebab dan faktor yang melingkupinya.
Hemat penulis, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penyelundupan BBM tersebut. Yang pertama, faktor ekonomi. kondisi perekonomian yang semerawut serta rendahnya harga jual minyak dalam negri dan naiknya harga minyak di pasaran internasional yang tinggi menarik orang-orang yang gelap mata dan berkepentingan untuk menjual minyak tersebut ke luar Indonesia, tentunya sudah melalui kerjasama --kongkalikong-- beberbagai pihak dengan keuntungan bagi hasil yang tentunya sangat menggiurkan. Sehingga minyak bersubsidi yang semestinya bisa di nikmati oleh rakyat dan sebagai devisa atas cadangan minyak nasional tersebut hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang serakah dan tidak bertanggung jawab.
Kedua. Lemahnya penegak hukum di Indonesia masihlah merupakan fenomena yang tidak asing lagi di negri ini. Bobroknya aparat yang berwajib ini bisa dilihat dari hasil selama ini sebagai pemantau keluar masuknya kapal-kapal tangker yang menyelundupkan ratusan ribu ton BBM tersebut bebas berkeliaran. Padahal pencurian tersebut di kirimkan ke Negara-negara tetangga. Tegasnya, terlepasnya penyelundupan BBM dari pantauan yang berwajib tersebut mengindikasikan –untuk tidak mengatakan di yakini- adanya sejumlah oknum aparat hukum yang terlibat dalam bisnis haram ini.
Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa sebenarnya kasus ini adalah merupakan persoalan lama, hanya saja kenapa kasus ini baru terungkap?
Merujuk pada data dari hasil gelar perkara kasus tersebut tercatat bahwa pencurian BBM telah berlangsung lama, tepatnya dimulai pada bulan oktober 2004 hingga agustus 2005 saat ini. dari hasil investigasi yang dilakukan pihak kepolisian tersebut diketahui bahwa usaha peneyelundupan tersesebut, tercatat puluhan bahkan ratusan ribu ton BBM yang di selundupkan ke luar Indonesia. (Jawa Pos10/9/05)
Namun bisa jadi mungkin data tersebut bisa lebih besar, mengingat dalam kasus ini juga diindikasikan adanya keterlibatan pihak yang berwajib, pejabat Negara dan pejabat pertamina yang terkait dengan jaringan menyelundupan BBM tersebut.
Bila demikian itu terjadi dimungkinkan proses penegakan hukum terhadap masalah ini akan semakin pelik dan kemungkinan diper-"Rumit". (penulis memberinya: tanda petik). Oleh karena banyaknya dugaan keterlibatan instansi-istansi kepemerintahan dalam kasus ini bisa katakana benar adanya.
Bentuk Tim Terpadu BBM
Guna menanggulangi dan menindak kasus penyelundupan dan penyalahgunaan BBM Sebenarnya pernah digagas dan di buat oleh mantan Presiden Megawati Sukarno Putri pada masa pemerintahannya. Yaitu dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Kepres) No. 25/2001 yang kemudian menjadi dasar pembentukan tim terpadu atau pengawas penanggulangan dan penyalahgunaan BBM, pencurian listrik dan peti.
Pembentukan tim terpadu BBM tersebut bertujuan untuk mencegah adanya praktek-praktek penyalahgunaan BBM, dan memberikan kewenangan kepada instansi terkait, baik di tingkat pusat maupun di daerah, untuk melakukan pengawasan secara fungsional, termasuk penyelundupan BBM yang harus di berantas oleh tim terpadu tersebut. (Bernas Jogja 10/9/05)
Selain itu penbentukan tim tersebut juga berfungsi sebagai badan pengawas dan mengatur lalu lintas keluar masuknya BBM kedepan. Tim ini bisa terbentuk atas kerjasama dari berbagai pihak, baik dari pertamina sendiri maupun aparat kepolisian dan badan-badan hukum yang ada.
Dengan demikian keberadaan tim terpadu BBM yang pernah di bubarkan oleh SBY, untuk segera di bentuk dan di hidupkan lagi. Mengingat begitu pentingnya tim tersebut dalam upaya penggagalan terhadap segala bentuk penyelewengan dan penyalahgunaan BBM yang akhir-akhir ini sangat meresahkan rakyat.
Tegasnya pihak pertamina sebagai instansi terkait semestinya bertanggung jawab serta menjaga kehormatan dan martabatnya di mata publik. Mengingat posisinya sebagai pihak yang dipercaya di garis terdepan dalam penanganan minyak dan energi nasional. Ingat BBM adalah merupakan persoalan yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Sekali salah lagkah dalam mengambil kebijakan BBM, maka yang pertama kali merasaknnya adalah rakyat kecil karena BBM adalah kebutuhan paling mendasar bagi rakyat
Akhirnya, melalui tulisan ini penulis berharap baik pemerintah, instansi terkait, pihak yang berwajib, serta seluruh komponen bangsa ini untuk bertindak tegas guna membongkar dan memberi ganjaran yang setimpal terhadap jaringan penyelundupan BBM tersebut. Stop kekerasan terhadap rakyat sekarang juga…! Wallahu a’lam

Agama Hindu Dharma

Oleh: M. Agus Budianto

1. Masa Pertumbuhan Dan PerkembanganDi Indonesia agama Hindu memperoleh bentuk yang tersendiri karena anasir agama nenek moyang dimasukkan dalam agama tersebut. Di ceritakan dalam Ramayana dan Mahabarata di olah dan disadur begitu rupa sehingga berbeda dengan aslinya yang terdapat di India. Demikian pula candi-candi yang terdapat di Indonesia mempunyai bentuk yang tersendiri sehingga berlainan dengan candi-candi yang terdapat di India. Sementara itu Agama Hindu Siwa dan Agama Budha di Indonesia dapat hidup berdampingan berabad-abad lamanya. Sehingga terdapat pengaruh timbal balik di kalangan penganut masing-masing agama. Kemudian bercampur pula dengan agama nenek moyang. Terutama di Bali yang sampai sekarang sebagian besar penduduknya masih beragama Hindu.Nama agama ini yang sebenarnya adalah agama Hindu, yang kemudian berubah-ubah menurut tempat dan kemauan umat untuk menyebutnya.

Agama Hindu Bali, diartikan orang sebagai Agama Hindu yang di anut di Bali, atau orang Bali yang beragama Hindu. Sebagaimana nama Hindu Jawa, diartikan sebagai Hindu yang di anut di Jawa atau orang Jawa yang beragma Hindu.Kira-kira pada permualaan abad tarikh masehi agama Hindu tersebut masuk ke Indonesia dari India. Di Jawa Agama Hindu bercampur kepercayaan Animisme Jawa, sedangkan di Bali juga bercampur dengan kepercayaan Animisme di Bali yang telah ada sebelumnya. Orang bali sendiri menyebut agamanya ini “Gama Bali” atau “Gama Tirta”. Tirta artinya kerena secara linguistik Hindu juga berarti air (Shindu).

Perlu di ketahui, bahwa Agama Hindu Bali percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam prakteknya dapat di capai melalui perantaraan Dewa. Karena itu maka timbul gerakan/aliran seperti Siwaisme, yaitu suatu aliran yang timbul karena kebaktiannya melalui perantaraan Dewa Siwa. Demikian pula aliran Wisnu, Brahma yang kesemuanya mendasarkan asasya pada satu pegangan kitab suci yang sama, yang tedapat dalam kitab Weda sebagai sumber tertinggi. Dalam kitab Weda itu di jelaskan bagamana hubungan antara Dewa-Dewa itu dengan Tuhan Yang Maha Esa.Karena ajaran agama-agama ini banyak bersifat rahasia dan kebatinan, maka banyak umatnya yang kurang mengetahui seluk beluk agama tersebut, sehingga sering timbul exes-exes atau hal-hal yang menyebabkan mereka menanam, keyakinan yang tradisional dan selanjutnya menimbulkan beberapa aliran-aliran yang keliru.

2. Dewa-Dewa Dalam Agama Hindu Dharma (Hindu Bali) Hindu di India mengenal Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa (Trimurti). Namun di bali orang Hindu disana lebih memuliakan Dewa Siwa. Hal ini menunjukkan bahwa Agama Hindu di Bali termasuk sekte (aliran, madzhab) Siwa.Menurut anggapan mereka Siwa ini adalah Dewa yang berdiam gunung agung (nama gunung yang tertinggi di Bali), dan mempunyai wujud yang bermacam. Kadang-kadang berwujud sebagai: Maha Dewa-Prameswara atau Iswara Sang Hyang Sawa atau Sang Hyang Titah.Kadang-kadang pula sebagai Batara Guru atau Mahayogi. Kadang-kadang pula sebagai Mahakala dan Bairawa.Disamping mereka memeliakan Dewa Siwa, masihterdapat pula beberapa Dewa yang perlu mendapat pemujaan, misalnya: 1. Kama dan Rati: Dewa Asmara. 2. Basuki (Naga Raja di Bali) : Dewa yang menurunkan hujan. 3. Bregu (salah seorang putra Dewa Brahma): Dewa Penyabung Ayam dan Pertaruhan yang Menyertainya. 4. Kumara (putra Dewa Siwa) : Dewa Perang dan Dewi pelindung anak-anak. 5. Baruna (Waruna) : Dewa Laut. 6. Kuwera (Dewa Keyakinan). 7. Surya: Dewa Matahari dan Dewa lain-lainnya.

3. Keyakinannya

a. mereka percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa

b. Percaya kepada Dewa-Dewa sebagai mahluk Tuhan yang mempunyai kedudukan sebagai perantara hidup kebatinan dan keagamaan antara manusia dengan Tuhan

c. Percaya adanya utusan Tuhan yang membawa ajaran-ajaran itu sendiri.d. Percaya akan adanya hari Pralaya (yaitu Hari Kiamat)

e. Percaya akan adanya kebijakan yang tertinggi yang menjadi tujuan hidup akhir.

KHARISMA DALAM KEMIMPINAN ISLAM
Oleh: M. Agus Budianto

Pendahuluan
Max Weber menempati posisi penting dalam perkembangan sosiologi. Signifikannya tidak semata-mata bersifat histories; ia juga menjadi sebuah kekuatan yang sangat berpengaruh dalam sosiolgi kontemporer. Bahkan ia seringkali di anggap sebagai perumus teori sosiologi klasik paling penting karena telah melakukan banyak penelitian dalam berbagai bidang, serta pendekatan dan metodenya banyak membantu analisa sosilogis kemudian. Seperti Karl Marx, Weber memiliki ketertarikan dalam berbagai bidang, seperti politik, sejarah, bahasa, agama, hukum, ekonomi, administrasi, di samping tentunya sosiologi.
Makalah ini sengaja tidak akan mengulas kesuluruhan ide dan gagasan besar Weber tentang sosilogi yang secara umum berporos pada tiga konsep: tradisi, kharisma, dan rasionalitas, serta konsep metodologisnya yang terkait dengan tiga skema konseptual: mode otoritas legitimate, tipe ahli keagamaan, dan tipe dasar aksi sosial. Tetapi makalah ini hanya membahas dan mendiskusikan sosiologi Islam dalam arti sesuai judul dengan makalah ini akan membahas kharisma dalam Islam, kharisma dalam Islam sampai detik ini sering dimaknai sebagai sebuah penggambaran bahwa dalam kepemimpinan Islam tidak sedemokratis dalam kepemimpinan barat (agama Kristiani), yang demkratis dan liberal. Mereka di pilih oleh rakyatnya secara langsung dan harus bertanggung jawa penuh terhadap tugas-tugas yang di embannya. Berbeda dengan Islam yang model kepemimpinannya terkesan lebih kepada system kehkalifahan yang tentunya yang berhak menggantikan dan melanjutkan kepemimpinan selanjutnya hanyalah bagi mereka keturunan atau yang masih keluarga raja. Lalu pertanyaannya sejauh mana Weber dalam memandang dan menafsirkan kasus kharisma dalam agama Islam.
Pembahasan
Weber mengartikan kharisma adalah gejala sosial yang terdapat pada waktu kebutuhan kuat muncul terhadap legitimasi otoritas. Weber menekankan bahwa yang menentukan kebenaran kharisma adalah pengakuan pengikutnya. Pengakuan atau kepercayaan kepada tuntutan kekuatan gaib merupakan unsure intergral dalam gejala kharisma. Kharisma adalah pengakuan terhadap suatu tuntutan sosial.
Dalam ensiklopedi Gereja, istilah Kharisma mempunyai arti sesuatu karunia istimewa yang di anugrahkan Tuhan kepada orang-orang tertentu supaya di abdikan kepada sesama Gereja. Misalnya. Karunia untuk merasul. Untuk bernubuat untuk menyembuhkan, untuk membeda-bedakan bermacam-macam roh dan untuk memberi kesaksian tentang iman di kehidupan sehari-hari.
Karisma bagi tradisi Jawa misalnya, akan datang dan pergi bersama kekuatan metafisik. Dalam tradisi politik Islam, mungkin sebanding dengan farri izzati, anugerah Tuhan yang dikonstruksikan secara teologis dan sosiologis. Maknanya apa? Bahwa karisma atau citra serba ideal yang dilekatkan pada figur atau otoritas tertentu bukanlah sesuatu yang abadi. Bukan sesuatu yang sebenarnya serba sakral dan luput dari perubahan. Karisma itu dapat mengalami krisis. Lebih-lebih untuk karisma yang atributif minus substansi. Karisma yang semu, yang semata-mata ornamental.
Bagi kultur masyarakat modern yang rasional, karisma dianggap hal yang artifisial, permukaan semata. Boleh jadi apa yang selama ini disebut karisma, sekadar pencitraan atau konstruksi yang dibuat oleh masyarakat semata. Bahwa karisma tidak lebih sebagai bangunan sosial bikinan masyarakat, yang kemudian dijadikan kemutlakan sosiologis yang seakan niscaya. Kontruksi karisma bersama pranata-pranata karismatiknya biasanya dilanggengkan dalam kultur masyarakat tribal dan agraris pedesaan, yang serba niscaya
Banyak orang menganggap Weber sebagai seorang romantis, seorang yang merusak ketentraman yang berlaku, orang yang membatalkan adat. Seorang yang berkharisma adalah seorang yang berdiri di atas adat itu (memperbaharui) adat, atau menimbulkan perpecahan dunia. Orang berkharisma selalu dianggap negatif, seseorang yang mengadakan keretakan (breaktrough). Kharisma menyajikan kemerdekaan yang baru dan menuntut ketaatan yang baru.
Gejala kharisma pada umumnya muncul pada waktu krisis, wktu perang atau pada waktu kebudayaan saling bertentangan, terutama disebabkan masalah akulturasi. Kharisma selalu menyebabkan perubahan sosial. Situasi masyarakat sebelum kharisma tidak pernah sama setelah kharisma.
Dalam analisis Max Weber tentang kharisma, kita melihat fenomena ini dengan apa yang di sebut Durkheim sebagai hal yang suci dan hal yang kudus (the holy) oleh Otto. Dalam kharisma kita melihatya suatu titik kritis yang pasti ada dalam dunia "sehari-hari, berupa sesuatu yang erat berhubungan dengan seseorang yang luar biasa dan mendatangkan kewajiban.
Weber membatasi kharisma sebagai:
"…….suatu kualitas tertentu dalam kepribadian seseorang dengan mana dia dibedakan dari orang biasa dan diperlakukan sebagai seseorang yang memproleh anugrah kekuasaan adikodrati, adimanusiawi, atau setidak-tidaknya kekuatan atau kualitas yang sangat luar biasa. Kekuatannya sedemikian rupa sehingga tidak terjangkau oleh orang biasa, tetapi dianggap sebagai berasal dari kayangan atau sebagai teladan dan atas dasar itu individu tersebut diperlakukan sebagai seorang pemimpin".
Bagi Weber kharisma memainkan dua peranan yang sangat menonjol dalam kehidupan. Sebagai hal yang luar biasa, kharisma merupakan sumber kegoncangan dan pembaharuan, karena itu merupakan unsure strategis dalam perubahan social. Dalam memproleh para pengikutnya dan dalam menimbulkan rasa hormat, sumber asli dalam wewenang itulah yang membuat ia dihormati, diterima,dan diikuti secara sukarela. Fenomena kharismatik, walau dihubungkan dengan manusia kongkrit, menyampaikan kepada siapa yang sensitive terhadap "himbauan" mereka, aspek-aspek dan implikasi serba empiris.
Kharisma melahirkan panggilan-panggilan, dan mereka yang karena sebab apapun dapat mendengar panggilan ini akan menanggapinya dengan keyakinan. Para pengikut ini merasa bahwa adalah "kewajiban mereka yang terpanggil pada suatu misi kharismatik untuk mengakui kualitasnya dan bertindak sesuai dengan kharisma itu". Kepemimpinan kharismatik "berada di luar suasana profan dan dunia rutin sehari-hari". Merupakan dunia yang sangat luar biasa bila debedakan dengan dunia sehari-hari. Dunia yang suci dan sangat berbeda dengan dunia profan. Seperti halnya dalam analisa Otto tentang hal kudus sebagai sesuatu yang berada di luar pertimbangan etika, analisa Weber tentang kharisma secara etis tetap netral.
Seperti halnya analisa Durkheim tentang hal yang suci yang di anggap sangat berbeda dengan dunia keseharian kerja, analisa Weber tentang kharisma secara etis tetap netral. Seperti halnya analisa Durkheim tentang hal yang suci yang dianggap sangat berbeda dengan keseharian kerja, analisa Weber memandang kharisma sebagai "sesuatu yang sama sekali sangat berbeda dengan pertimbangan ekonomis". Kharisma murni sangat berbeda dari lembaga-lembaga masyarakat yang telah mapan. "dari sudut pandang substantif, setiap kekuasaan kaharismatik harus tunduk terhadap proposisi" "itu tertulis…….., tetapi saya katakana pada anda…."
Fenomena kharismatik tidak stabil dan temperatur, dan eksistensinya berjalan terus hanya bila di rutinkan, yakni bila ditransformir atau dipadukan ke dalam struktur rutin yang di lembagakan dalam masyarakat. Rutinisasi demikian itu dapat berkembang kearah rasional dan birokratis atau ke arah tradisional, dan karena itu melahirkan wewenng tradisional dan rasional. Unsure kharismatik yang telah masuk ke dalam struktur social yang di mapankan inilah yang menjadi dasar pengedahan wewenang yang mapan. Disini Weber menunjukkan fungsi hal yang suci itu dalam pengendalian social, yakni memperkuat kembali norma masyarakat dan struktur-struktur wewenangnya. Legitimasi dianggap di proleh dari "suatu acuan transendental" yang berasal dari pengalaman kharismatik dan dibawa ke dalam perkembangan struktur social yang berasal dari pengalaman tersebut . agama-agama yang didirikan, dengan isu khusunya dalam organisasi keagamaan, sebagaimana di bedakan dari sakralisasi "kelompok-kelompok natural" seperti keluarga dan masyarakat, berasal dari pengalaman pengikut dengan pemimpin kharismatik. Kharisma diturunkan dari pengalaman tertentu tentang hal yang suci yang menyatu dalam diri seorang manusia yang dianggap luar biasa.
Dalam semua analisis Marx Weber terdapat tiga ciri khas pokok yang menggambarkan kharisma. Kharisma adalah sesuatu yang "luar biasa", yakni sesuatu yang sangat berbeda dari dunia sehari-hari; ia bersifat spontan sangat berbeda dengan bentuk-bentuk social yang stabil dan mapan; dan merupakan suatu sumber dari bentuk serta gerakan baru, dan karena itu dalam arti sosiologis dia bersifat kreatif perlu diingat bahwa ketiga karakteristik ini erat berdampingan dengan atribut-atribut yang oleh ahli teologi dalam tradisi Yahudi-Kristen dan islam telah diatributkan pada Tuhan. Tuhan dianggap sangat berbeda dari ciptaannya –sesuatu yang "sama sekali lain" (wholly other), bila kita menggunakan istilah Otto, ia dipandang sebagai "the living god" dalam arti teologi alkitabiah, dan sebagai "pure sct" (Action Purus) dalam teologi yang di pengaruhi oleh konsep-konsep Aristoteles, yaitu dimana tidak ada hal yang tidak sadari yang tidak mempunyai masa lampau maupun masa mendatang, tetapi suatu keadaan di mana kehidupannya abadi yang "sekarang" tak terbatas dan dialah pecipta semua makhluk.
Dalam pengkajian tentang hal suci atau hal kudus dan tentang fenomena kahrisma, kita telah mengkaji suatu aspek penting dalam pengalaman keagmaan. Dalam pengalaman keagamaan manusia memberikan tanggapan terhadap hal yang luar biasa, kekuasaan, spontanitas, dan kreativitas. Tanggapan manusia ditandai oleh adanya penghormatan yang dalam dan daya tarik yang besar. Dari pengaaman keagamaan ini lahirlah bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, tindakan dan hubungan yang stabil. Kita telah langkah pertama dalam memahami pengalaman keagamaan –dan tanggapan khas yang di berikan manusia terhadap tuan yaitu menghormati dan penuh kagum. Dengan cara ini kita telah memulai pembicaraan tentang titik kritis yang berada pada inti masalah agama.
Fenomena kharisma dan kepemimpinan kharismatik, seperti dikatakan oleh loewenstein, dapat ditemukan di suatu wilayah dimana keyakinan rakyat pada kekuatan supranatural masih meluas, seperti, misalnya, di Indonesia. Berbeda dengan loewnstin, Edward shilis melihat adanya unsure kharismatik dalam setiap masyarakat. Secara umum dari uraian tersebut diatas, sekali lagi Weber mendifinisikan kharisma sebagai "kualitas tertentu seorang individu yang karenanya ia jauh berbeda dengan orang-orang biasa dan dianggap memiliki kekuatan supranatural, manusia super atau setidaknya luar biasa. Tetapi semua itu dianggap berasal dan bersumber dari tuhan, dan atas dasar itu, individu yang bersangkutan diperlakukan sebagai pemimpin". Menurutnya pula kharisma adalah sebagai kekuatan inovatif dan revolutif, yang menentang dan mengacaukan tatanan normative dan politik yang mapan. Otoritas kharismatis didasarkan pada person ketimbang hukum impersonal. Pemimpin kharismatik menuntut kepatuhan dari para pengikutnya atas dasar keunggulan personal, seperti misi ketuhanan, perbuatan-perbuatan heroik dan anugrah yang membuat dia berbeda.
Institusionalisasi kharisma dapat di peroleh melalui beberapa cara, misalnya, bisa melalui hubungan darah, keturunan dan institusi. Dalam masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh keyakinan tradisional, kharisma banyak diturunkan melalui hubugan darah. Kharisma yang dimiliki oleh megawati, rachmawati, dan sukmawati, yang ketiganya memimpin partai dengan ideologi sukarnoisme, diwarisi dari bapaknya, sukarno tokoh proklamator yang sangat kharismatik. Para pendukungnya sangat setia kepada mereka kerap kali tidak disadari pada pertimbangan rasional, tetapi lebih pada ikatan-ikatan emosional dan kharisma bapanya.
Satu contoh yang mungkin juga representatif untuk menjelaskan kharisma dan kepemimpinan kharismatik adalah kharisma yang dimiliki oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mewarisi kharisma melalui hubungan darah, keturunan, dan institusi, diamping pengetahua Gusdur yang mendalamtentang masalah-masalah social-politik-keagamaan. Sepak terjang Gusdur dalam banyak bidang, baik pemikiran keagamaan maupun masalah-masalah kemanusiaan dan demokrasi, telah banyak mengguncang tatanan normative masyarakat islam tradisional NU. Timbulnya para pemikir liberal di kalangan NU yang pernah dipimpimnya, paling tidak, berkat kepemimpinan Abdurrahman Wahid.
Abdurrahman Wahid yang lahir di Denanyar Jombang Jawa Timur, 4 Agustus 1940, mempunyai seorang kakek yang kharismatik, yaitu Hasyim Asy’ari, yang merupakan salah satu dari pemimpin muslim terbersar Indonesia pada pergantian Abad lalu, dan dan seorang ayah, Wahid Hasyim yang juga merupakan tokoh penting dan pernah menjabat posisi menteri agama pada 1945.
Sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur mewarisi kharisma moyangnya. Hasyim Asy’ari dekenal sebagai seorang penggalang Islam tradisional yang sangat berpengaruh. Ia mendirikan sebuah organisasi yang sampai saat ini masih mempengaruhi pola hidup sebagian besar umat Islam Indonesia. Ucapan-ucapannya dita’ati oleh para pengikutnya, terutama dikalangan orang-orang NU.
Disamping itu, jika ditelusuri kebelakang, kharisma tersebut ternyata dapat ditemukan juga pada nenek moyangnya. Gus Dur ternyata memiliki keturunan yang sangat berpengaruh dan berdarah biru. Nenek moyang dari Gus Dur, dapat ditelusuri sampai kepada syeh Ahmad Mutamakkin, seorang yang dipercaya sebagai "waliyullah" (derajat tertinggi dan terhormat dalam keyakinan umat Islam) dan yang merupakan ulama controversial zaman Mataram Kertosuro, Abad ke-18. Syeh Mutamakkin dipercaya juga merupakan keturunan dari orang yang sangat legendaries di tanah Jawa yang juga raja Pajang, yaitu Joko Tingkir, cicit Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir.
Rutinisasi kharisma melalui keturunan inilah yang membuat para pengikut Gus Dur sangat loyal, bahkan sekalipun sinyalemen-sinyalemen Gus Dur seringkali sulit difahami dan membingungkan banyak orang. Masyarakat tradisional NU bahkan berani mati untuk mendukung tokoh ini. Ini terbukti dengan dibentuknya "pasukan berani mati" untuk membela Gus Dur dari upaya-upaya yang inign menjatuhkan kekuasaannya. Gus Dur cenderung di sakralkan hal ini terlihat ketika ia banyak mengecewakan para ulama karena pendapat-pendapatnya yang controversial ia tetap lolos sebagai president bahkan ketika setelah ia digulingkan ia kembali menjadi ketua PBNU. Pengaruh pemikirannya juga sangat luas sehingga banyak kalangan kaum muda NU yang tersemangati olehnya sehingga yang kita kenal selama ini telah berdiri Lembaga Kajian Islam Strategis LKIS, dan yang paling menarik dan controversial adalah berdirinya kelompok diskusi Jaringan Islam Libral JIL.
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa gagasan sosiologi Weber penekanannya terletak pada tindakan social, makna subjektif dan sosiologi bebas nilai. Dan ini dapat dilihat ketika Weber melakukan analisa tentang pengaruh agama dalam tindakan social seorang individu. Ternyata, menurut Weber, ada hubungan yang sangat erat antara etos kerja kaum Calvinis dengan semangat kapitalisme modern. Kendati demikian, tesis Weber tntang etika Protestan tidaklah sepi dari kritik. Kritik tersebut pada dasarnya di arahkan kepada korelasi yang tidak tepat antara antara protestantisme dan kepitalisme berdasarkan bukti-bukti empirik, dan kepada penggambaran Weber yang tidak cermat mengenai ajaran-ajara Calvinis. Kendati demikian, terlepas dari berbagai kritik yang diarahkan kepadanya, Weber telah menggagas ide-ide besar yang sangat berpengaruh dalam dunia ilmu-ilmu sosial.
Tesis Weber tentang kharisma dan kepemimpinan kharismatik dalam masyarakat Indonesia yang masih didominasi oleh keyakinan-keyakinan tradisional masih dapat diterapkan. Contoh yang representatif adalah Gus Dur yang mewarisi kharisma melalui hubungan darah, keturunan dan institusi, yang kepemimpinannya serta gebrakannya dalam pemikiran keagamaan dan masalah-masalah kemanusiaan mewarnai dan mengubah pola pikir masyarakat NU, terutama kalangan anak mudanya yang antusias dan dinamis. Wallahu a’alm